Archive for 2014
London. Spring, 8th 2012
Senyum pemuda itu terus terbayang di pikiran Laura.
Kehangatan yang sudah lama tidak dirasakannya pun hadir beberapa saat yang
lalu. Laura ingin mengelak dari kenyataan saat ini. Dia tidak mau mengakui
bahwa akal sehat dan hatinya sudah tidak sejalan. Akal sehatnya tidak bisa
jujur untuk mengatakan bahwa sesuatu dalam dirinya telah dicuri, telah melayang
ke tempat yang sangat asing.
Laura mempercepat langkah kakinya, meninggalkan sosok
Jack yang sudah baik hati mengajaknya keluar dari Cambridge menuju sebuah kota
besar di Inggris, London, sekedar untuk menghibur Laura. Dari dulu gadis
berambut pirang ini tidak pernah mengerti apa yang dipikirkan semua kaum Adam
yang pernah masuk ke dalam hidupnya, bahkan ayahnya sekalipun. Dia tidak pernah
tahu alasan kenapa ayahnya sampai tega meninggalkannya sendirian setelah
kematian sang Ibu. Di tempat ini, di dunia yang keras.
“Hei Laura! Darimana saja kau?! Kau tahu ini jam berapa?!”
“Maaf Sir. Tadi saya mesti berlari jauh, Polisi mengejar
saya.”
“Hah, dasar bodoh! Lalu, apa kau mendapatkan hasil?”
“Tidak Sir. Saya tidak mendapatkan apa-apa hari ini.”
“Dasar bodoh!” sebuah tamparan melayang ke pipi sebelah
kanan Laura, seketika pula membuatnya jatuh. Pipi sebelah kanannya pun tampak
memerah. “Kau pikir kau bisa dapat hidangan malam ini? Tidak akan!”
Tuan James McBlanc, itulah nama sosok pria berusia 40
tahun yang selama ini merawat dan membesarkan Laura dan beberapa penghuni
lainnya. Sarang yang mereka tempati berada di ujung gang sempit yang gelap dan
dingin, berlantai 3 dan dihuni sekitar sepuluh orang anak yang berusia antara
15-20 tahun. Ya, mereka semua berprofesi sebagai pencopet, yang mana setiap
hari hasil kerja mereka harus diberikan kepada Sang McBlanc sebagai tanda balas
jasa telah merawat mereka sejak kecil. Termasuk Laura yang dibuang ayahnya.
Setelah bangkit dari jatuhnya, Laura segera melangkah
sambil memegangi pipi kanannya yang merah. Sakit memang, tapi itu tidaklah
cukup untuk menghapuskan sedikit perasaan bahagianya hari ini. Belum ada kata
yang tepat untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan saat ini, dan belum ada
apapun yang dapat membuatnya lupa dengan senyuman seorang Jack.
“Laura! Kenapa pipimu? Dia yang melakukannya?”
Karen, teman satu kamar Laura yang berusia sama dengannya
melompat ketika melihat sosok sahabatnya datang dengan kondisi yang tidak baik.
“Haha yah sudahlah. Bagaimana harimu?”
“Oh yeah, aku berhasil mengambil dompet seorang pria
tampan di Trinity Street. Aku mendapatkan kartu namanya, dan sepertinya dia
masih sendiri! Nah, bagaimana denganmu, Laura?”
“Entahlah. Karen, apa tanda-tanda perempuan menyukai
seorang pria?”
“Kenapa kau tanya soal itu? Seperti bukan Laura yang
kukenal.”
“Tidak ada. Hanya ingin tahu. Apa itu masalah?”
“Yah kurasa sudah sewajarnya kau bertanya sih. Aku tidak
bisa memberikan jawaban yang pasti soal itu. Hanya kau yang tahu kapan kau suka
atau jatuh cinta pada seseorang.”
Untuk beberapa saat Laura diam, pandangannya kosong
tertuju pada satu titik. Kembali terputar rekaman ingatan beberapa waktu yang
lalu tentang rasa nyaman yang dia rasakan bersama seorang pria seumurannya
bernama Jack. Tiap detik yang dia lewati dengan duduk berdampingan bersama
pemuda itu di kursi depan mobil mewah yang melaju dengan kecepatan sedang
terasa begitu indah. Untuk pertama kalinya dia dapat memandangi indahnya London
Eye serta mengagumi megahnya BigBen yang menjadi simbol kota London. Sungguh,
itu menjadi pengalaman pertama yang tidak akan mungkin mudah Laura lupakan,
apalagi bersama seseorang. Ya, seseorang.
“Ah, kau sedang suka pada seseorang ya?! Ayoo mengaku!”
“Ah? Eh..? Tidak.. Mana mungkin!”
“Yah tidak ada yang tidak mungkin sih. Lagipula kau wanita,
kita sama. Cepat atau lambat, kau juga pasti akan menyukai seorang pria.
Hahaha!”
“Apa selama ini kau mengira aku penyuka sesama jenis?”
“Hanya mengira-ngira. Peace.”
“Dasar bodoh..”
Ya, mungkin untuk saat ini Karen tidak perlu tahu banyak
soal kehadiran sosok baru di dalam hidup Laura. Belum saatnya Laura
menceritakan tentang apa yang tengah dia rasakan saat ini, tentang pertemuannya
dengan Jack. Tentang jalan cerita yang mulai terajut antara Laura dan pemuda
kaya itu. Laura hanya tidak habis pikir, bagaimana mungkin pertemuan mereka
yang terkesan sangat abnormal, justru menjadi jalan takdir yang membuat seorang
gadis tomboy seperti Laura merasakan jatuh cinta.
Tidak ada yang aneh dengan cerita seorang gadis pencopet
yang jatuh hati pada sang korbannya. Laura bisa dengan mudah mengambil dompet
Jack, menguras semua yang ada di dalamnya. Namun Jack bisa melakukan lebih dari
apa yang dia lakukan. Jack telah berhasil mencuri sesuatu dari Laura. Ya, Jack
berhasil mencuri hati Laura.

