Archive for Juni 2013
London. Spring,8th 2012
Hari
Sabtu. Yeah!
Pagi, sama seperti kemarin, Jack bergegas menaiki
mobilnya siap menyusuri jalanan lagi. Dan tujuannya sudah jelas, hari ini dia
harus menemukan dan mengetahui nama gadis pencopet itu. Mengenakan jaket hitam
dengan celana jeans, Jack tampak terlihat tidak seperti pemuda tampan Britania
Raya pada umumnya. Dandanannya malah terkesan sangat sederhana. Toh baginya
tidak ada yang terlalu istimewa. Hal-hal istimewa seperti apapun tidak akan ada
bedanya dengan hari-hari biasa, menurutnya.
Jack sengaja membawa sarapannya ke dalam mobil, akan dia
nikmati selagi melakukan perjalanan. Tapi dia juga sempat untuk mengunjungi
salah satu supermarket di Charing Cross Road, membeli beberapa makanan ringan
dan minuman kaleng. Dia tidak bakal tahu apa yang akan terjadi beberapa saat ke
depan kan?
Mobil BMW itu melaju dengan kecepatan sedang, melewati
daerah-daerah yang dimana jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya
dipisahkan dengan sebuah halaman luas untuk bertanam. Cuaca cukup mendukung
dengan awan biru dan cahaya matahari yang menandakan tidak akan datang hujan
untuk hari ini. Dengan begini, dia bisa tenang. Yah, tujuannya harus tercapai
hari ini. Dia tidak mau menjadi gila hanya karena menginginkan sebuah nama yang
tidak kunjung dia dapatkan. Tidak akan mau.
Dan…
Cambridge. Jack menunggu di depan café kemarin, namun di
dalam mobilnya. Sambil menunggu, mulutnya tidak berhenti untuk mengunyah
sepotong roti buatan ibunya. Pandangan matanya selalu waspada, mengawasi
siapa-siapa saja yang melewati mobilnya. Belum ada tanda-tanda sama sekali.
Jack menyandarkan tubuhnya ke belakang, membuat posisinya nyaman senyaman
mungkin. Suasana di dalam mobilnya sunyi, dia tidak ada niat menghidupkan
lagu-lagu yang ada. Dia ingin menunggu, dengan keadaan yang tenang.
1 jam, mungkin Jack sudah menghabiskan satu minuman
kaleng ditambah beberapa makanan ringan.
Dan sampai 3 jam, masih belum ada tanda-tandanya.
Malah, cuaca mendadak berubah. Awan menjadi gelap.
Matahari mulai beranjak, seakan-akan ini waktunya untuk kembali tidur. Awan
hitam menjadi penghias langit pagi itu. Pukul 10, dan sudah akan hujan?
Untungnya Jack berada di dalam mobil. Dan benar saja, tidak lama kemudian hujan
turun. Awalnya hanya beberapa tetesan namun lama kelamaan semakin deras dan
mereka datang dalam waktu yang bersamaan. Dengan keadaan seperti ini, sudah
mustahil bagi Jack untuk menemukan gadis itu kan? Mungkin, ini bukan waktunya
(lagi).
Jack menghidupkan mesin mobilnya lagi, dan BWM hitam itu
maju perlahan meninggalkan tempatnya semula. Mobil itu berjalan pelan, karena
pengemudinya nampak masih penasaran dengan ‘sesuatu’ yang dia cari. Matanya
terus bergerak ke kanan maupun ke kiri jalanan. Tidak ada. Okay, harapannya
pupus untuk hari ini. Mungkin hari ini tidak berjalan sesuai dengan apa yang
dia inginkan.
Bukan hidupnya yang buruk, hanya hari yang buruk.
Namun, yang namanya takdir sudah pasti tidak bisa
berubah. Dimana ada usaha, tidak jauh dari situ pasti aka nada hasil yang
tampak. Pandangan mata Jack menangkap sesosok perempuan duduk sendirian
berteduh di sebuah halte dengan keadaan memeluk dirinya sendiri. Jack membuka
sedikit kaca mobilnya, memicingkan matanya, memastikan apakah itu yang dia
cari. Dalam sekejap, kedua matanya seakan-akan terbuka. Rasanya seperti ketika
pertama kali mendapatkan hadiah pertama Natal dari Santa! Jack meminggirkan
mobilnya ke arah halte. Dia kemudian turun, menuju arah gadis itu.
“Kelihatannya kau kedinginan…”, ujar Jack sambil
melepaskan jaket hitam yang dia kenakan. Dan kini tubuhnya hanya berlapiskan
kaos hitam polos. “Pakailah.”
Jack menyelimutkan jaket miliknya pada gadis berambut
pirang itu. Tentu saja dia ikhlas melakukan ini sekalipun permukaan kulitnya
harus tersiksa dengan dinginnnya angina yang bertiup kencang. Gadis itu sama
sekali tidak berbicara. Bibirnya nampak bergetar menahan dingin. Jack mengerti.
“Ayo, kuantar kau ke rumahmu.”
Jack membimbing gadis itu masuk ke mobilnya, dan anehnya
gadis itu tidak melakukan hal-hal yang aneh. Nah, sekarang Jack sudah kembali
ke kursi kemudinya dengan gadis itu di sampingnya.
“Dimana rumahmu?”
Masih tidak ada jawaban sama sekali dari gadis itu. Masih
bersikukuh untuk diam, menahan rasa dingin.
“Hm, kurasa kau butuh sedikit hiburan.”
Jack tahu ke mana dia harus membawa gadis itu. Jack
mengarahkan mobilnya keluar dari Kota Cambridge, tujuannya adalah London. Entah
apa yang membuat Jack berpikir kalau membawa gadis itu ke London akan
membuatnya berbicara. Jack tahu apa yang dia lakukan dan dia pasti akan
bertanggung jawab atas apa yang dia perbuat.
“Ini, makanlah. Bisa menghangatkan tubuhmu.”, Jack
mengulurkan tangannya, memberikan sepotong cokelat yang dia beli. Kata Ibunya,
cokelat punya khasiat untuk menghangatkan tubuh. Mungkin?
Gadis itu menggigit sedikit ujung cokelat batangan itu.
Mengunyahnya, dan terus melakukannya berulang-ulang.
“Aku akan membawamu ke London….”
Seketika gadis itu nampak bingung, dan memasang raut
wajah yang mengartikan bahwa seakan-akan dia akan diculik.
“Tenang, aku tidak akan melaporkanmu ke polisi.”
Gadis itu kembali duduk tenang, bersandar pada kursinya.
Memandang keluar jendela yang mulai menampakkan gedung-gedung tinggi. Mereka
sudah hampir sampai di London. Ternyata, di London pun juga hujan. Sepertinya
merata ke seluruh Britania Raya. Sejujurnya, di dalam hati Jack amat senang
dengan keberadaan gadis itu di sampingnya saat ini. Rasanya seperti mimpi.
Sungguh.
“Lihat, London’s Eye
selalu terlihat begitu indah ya. Haha.”
Benar, Jack mengajak gadis itu untuk melihat-lihat
bagaimana indahnya London dengan segala ‘benda-benda’ kebanggaan mereka. Gadis
itu nampak takjub dengan benda raksasa yang kokoh tinggi menjulang itu.
Sayangnya ini hujan, kalau tidak mungkin Jack akan mengajak gadis itu untuk
berkeliling. Yah seandainya saja. Baiklah, pemberhentian selanjutnya tentu saja
tempat ‘itu’ kan.
“Nah, bangunan luar biasa ini selalu bisa
menghiburku.”
“Apa namanya?”
Akhirnya
gadis itu memperdengarkan suaranya. Terdengar sangat lembut, sama seperti
pertama kali mereka bertemu di depan café kemarin. Ini dia, sepertinya cara
yang digunakan Jack berhasil ya? Aneh, gadis itu sampai tidak tahu nama
bangunan yang cukup terkenal di Britania Raya ini?
“BigBen,
itu namanya.”
Mereka
terus berkeliling, dengan keadaan di luar yang sudah agak berbeda. Hujan sudah
agak reda. Tidak terasa, sudah lebih dari 2 jam mereka bersama duduk
berdampingan di dalam mobil. Dan sudah saatnya Jack kembali membawa gadis itu
ke Cambridge.
“Kenapa
kau melakukan ini?”
“Eh?”
“Kenapa
kau mengajakku ke tempat ini?”
“Entahlah.
Kurasa kau butuh hiburan.”
Selama
sisa perjalanan mereka, keadaan sunyi. Namun Jack senang. Paling tidak dia bisa
sesekali melirik gadis itu yang sedang termenung. Baginya tampak lebih indah.
Oh ya, dia tidak boleh melupakan apa tujuannya kan? Ya! Ini kesempatan keduanya
dan tidak boleh dia lewatkan! Ini waktu yang tepat untuk melakukannya! Akan
terlihat seperti orang bodoh saja kalau sampai dia terlena dengan kesenangan
yang sesaat tanpa mengenal namanya.
“Aku
Jack McKinley. Namamu?”
“Laura.
Laura Baines.”
“Hm,
baiklah Laura. Ke mana aku harus mengantarmu?”
“Cukup
di depan café kemarin saja. Aku bisa jalan sendiri.”
Tanpa
banyak bertanya lagi, Jack segera mengantarkan Laura di depan café. Dia tidak
mau terlalu memaksakan diri dengan bertanya sebenarnya rumah Laura. Wanita
tidak akan terlalu suka hal seperti itu kan? Hari ini benar-benar luar biasa
untuknya.
“Terima
kasih. Ini, jaketmu.”
“Tidak
masalah. Em, Laura…?”
“Apa?”
“Kira-kira,
dimana aku bisa menemukanmu? Selain di sini?”, di depan café ini. Pasti ada
tempat lain yang dijadikan Laura sebagai tempat favoritnya kan.
“Entahlah.
Aku orangnya mudah bosan. Jack, aku harus buru-buru pulang. Thanks atas
semuanya. Dan maaf soal yang kemarin.”
Lagi-lagi
gadis itu langsung berlari tanpa menunggu jawaban satu patah kata pun dari
Jack. Tapi Jack cukup meresponnya dengan senyumnya. Yah dia sudah cukup
beruntung bisa mengenal Laura. Dia ingin kenal lebih jauh lagi dengan gadis
itu. Mungkin kalau dia menceritakan kisah ini pada Zack, saudaranya akan
langsung mengolok-oloknya karena ‘jatuh cinta’ pada seorang pencopet yang
bahkan tidak mengenal BigBen. Tapi benar, Jack sungguh-sungguh ingin lebih lama
dengan Laura.
Ya, dia benar-benar sudah jatuh cinta. Inilah
lembaran baru yang menutup masa lalunya.
“Hei! Kembalikan!!”
Sambil berlari, Jack
mencoba meneriakkan kata-kata yang mungkin bisa ‘meluluhkan’ niat gadis
pencopet itu. Jack terus berlari di belakang sang pencopet yang nampaknya sudah
handal karena larinya juga cukup cepat untuk seorang wanita. Dan lagi, jalan
yang dilalui pun sepertinya sudah seperti kebiasaan tersendiri untuk gadis itu.
Jack cukup berharap
bahwa jalanan ramai di depan sana setidaknya bisa menghambat laju gadis yang
tak diketahui namanya itu. Tapi apa mau dikata, gadis itu tetap berlari kencang
menerobos tubuh-tubuh yang ada di depannya, melewati mereka semua seakan-akan
ini adalah hidup terakhirnya di dunia. Meski begitu, sebagai pria tentu saja
Jack tidak akan mudah menyerah, apalagi dia harus merelakan beberapa lembar
uang miliknya secara cuma-cuma pada seseorang yang tidak dia kenal sama sekali.
Semakin lama, Jack
merasa bahwa keadaan disekitarnya sudah berubah. Dia tidak lagi berada di
sebuah jalanan yang ramai dilalui orang-orang. Malah, kini dia berada di antara
gang-gang sempit yang berada di tengah-tengah beberapa rumah bertingkat. Kedua
bola mata Jack menangkap pagar tinggi, tak jauh dari tempatnya saat ini masih
berlari. Dan lihatlah, gadis itupun berhenti dan berbalik menghadap Jack yang kini
sudah sangat terengah-engah, mencoba mengatur nafasnya kembali normal.
“Hei… Kembalikan…”
Pemuda itu terdengar
memelas dari suaranya. Wajar saja, sudah cukup jauh perjalanannya tadi ditambah
harus berlari mengejar pencopet lincah yang mungkin saja mempunyai sepatu ajaib
yang bisa melipatgandakan kecepatan larinya.
“Huh! Ini, ambilah! Dan
lekas pergi dari sini, Tuan.”
Apa-apaan itu? Jack
melihat gadis itu melemparkan dompetnya, dan kini sudah ada di dekat kaki Jack.
Kenapa tidak dari tadi saja gadis itu menyerahkannya? Apa dia pikir Jack adalah
laki-laki yang mudah menyerah? Jack merasa cukup lega dengan keringanan yang
diberikan gadis itu padanya. Namun tak lama kemudian, gadis itu kembali berlari
dan melompati pagar tinggi yang terbuat dari kawat. Sangat lincah dan cerdik!
Jack tentu tidak ingin menghilangkan sesuatu yang indah buatnya hari ini.
Diapun berlari, meski tidak melompati pagar kawat di depannya.
“I think I’m in
love..”, suara Jack terdengar seperti sebuah bisikan yang amat sangat pelan.
“HEI! SIAPA NAMAMU?!”,
Jack kali ini mesti menjerit karena jaraknya dengan gadis itu sudah lumayan
jauh. Dan belum lagi pagar pembatas yang kini memisahkan mereka.
Beberapa
saat kemudian gadis itu menghilang di sebuah belokan. Jack melangkah pelan
untuk mengambil dompetnya yang masih tergeletak di atas tanah, dan memeriksa
keadaannya. Masih sama, tidak ada yang berkurang sama sekali. Inilah yang
membuat Jack cukup heran. Sebenarnya, apa tujuan gadis yang tidak ingin
memberitahukan namanya itu? Jack menoleh lagi ke arah pagar kawat tadi,
berharap kalau gadis itu akan kembali.
“SENANG BERTEMU
DENGANMU!”
Seakan-akan gadis itu
akan mendengarkan teriakannya. Hah bodoh.
Sudah cukup sepertinya.
Mungkin ini belum waktunya. Jack bisa berharap pertemuannya dengan gadis itu
merupakan sebuah awal baru dari kehidupannya di London. Mungkin dia sudah
menemukan tinta yang akan dia gunakan untuk menorehkan kata-kata indah di atas
secarik kertas kosong. Terlalu berharap bukan masalah, selama dia juga mengiringinya
dengan usaha, dia percaya dia bisa. Pasti.
Ngomong-ngomong, dia
sudah harus kembali ke rumahnya.
“Hmm…”
Jack kembali
ke jalanan Kota London yang sudah ramai lagi. Wajar saja, sekarang sudah pukul
10 pagi dan tidak terasa sudah 3 jam Jack menghabiskan waktunya di luar rumah.
Setidaknya dia mendapatkan ‘sesuatu’ untuk dirinya. Tidak, dia tidak akan
bertindak bodoh dengan membagi kisahnya dengan saudara kembarnya. Dia ingin
menyimpan kisah barunya ini untuk dirinya sendiri. Yah, sebuah dongeng indah dari Kota Cambridge
yang akan jadi bunga mimpi indahnya.
“Bagaimana
mobil barumu, Jack?”, terdengar suara Zack ketika Jack baru saja turun dari
mobilnya di depan garasi.
“Cukup
menyenangkan dan cepat. Mau coba?”
“Aku tidak
tertarik.”
Tidak
mungkin. Jack tahu, sebenarnya saudara kembarnya itu juga menginginkan hal yang
sama dengan Jack. Hanya saja, mungkin karena faktor Jack yang ‘sedikit’ lebih
tualah yang membuatnya sedikit beruntung. Jadi ceritanya, setiap hari Jack akan
membawa mobilnya dengan Zack yang akan duduk dengan rapi di sampingnya ke
Universitas Cambridge. Yah, mereka berada di satu sekolah kali ini.
“Sudah
bertemu gadis London hm?”, kali ini suara ayahnya yang terdengar, beberapa
langkah setelah Jack masuk ke dalam rumah.
“Yep,
mereka lebih seksi.”
“Tentu
saja. Hahahaha!”
Jack
langsung pergi ke kamarnya, memperhatikan kalender yang tergantung di dinding
kamarnya. Masih ada sekitar 2 minggu sampai tahun ajaran baru dimulai. Dan itu
artinya masih ada cukup waktu untuk bersenang-senang di sini, pikirnya. Jack
merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang empuk, menatap langit-langit
kamarnya. Terbayangkan lagi wajah gadis pencopet yang ditemuinya tadi. Indah.
“Maybe I’m
in love.”
Jack
menutup matanya, dan terlihat pula segurat senyuman tipis di wajahnya. Ingin
rasanya dia beranjak ke dunia mimpi dan bertemu gadis itu lagi. Satu hal yang
tidak akan dia lewatkan ketika bertemu dengan gadis itu lagi adalah menanyakan
namanya. Dia tidak mau tergila-gila pada sosok gadis yang tidak diketahui
namanya. Ya, dia harus tahu nama gadis itu bagaimanapun caranya.
Setidaknya
sekarang Jack sudah tahu. Bahwa cinta tidak bisa ditebak kapan dia datang,
dimana dia akan muncul dan bagaimana dia masuk ke dalam hari seseorang.
London. Spring, June 7th 2012
Sinar mentari pagi masuk menembus jendela kamar Jack.
Tangannya tidak tahan untuk segera menutupi kedua pandangan matanya dari
serangan sinar mentari yang menyilaukan. Dengan amat sangat terpaksa, Jack
segera beranjak dari posisi tidurnya, untuk kemudian duduk di pinggiran tempat
tidur. Dalam keadaan setengah sadar, pemuda ini memandangi seisi kamarnya. Yah,
setidaknya dia sudah menghabiskan waktu satu hari penuh untuk merapikan
kamarnya, kemarin. Novel-novel koleksi miliknya sudah tersusun di tempat yang
layak. Baju-baju di dalam koper pun sudah dikeluarkan dan kini sudah ada di
dalam lemari pakaian yang letaknya bersebelahan dengan meja belajar.
Jack keluar dari kamarnya, menuruni satu per satu anak tangga
menuju ruang makan yang ada di bawah. Di ruang makan, ayahnya sedang menikmati
sarapan berupa beberapa potong roti keju sambil menyaksikan tayangan berita di
layar kaca. Ibunya baru saja selesai meletakkan potongan roti terakhir di atas
piring kosong di atas meja makan. Dan saudara kembarnya, Zack, hanya duduk
belum menyentuh hidangan yang ada dihadapannya.
“Mimpi buruk, eh?”, ujar Jack yang langsung duduk tepat di
samping saudara kandungnya itu.
“Tidak. Aku hanya sedang tidak berselera.”
“Ayolah Zack, kau bisa membawaku jalan-jalan hari ini!”
“Maaf, aku ada janji lain. Lain kali saja.”
Usai berkata begitu Zack langsung beranjak dari tempatnya
duduk, membawa piring sarapannya, kembali naik ke atas. Sudah jelas bahwa
saudaranya itu lebih menikmati sarapan sendirian di kamarnya. Yang menurutnya ‘nyaman’.
“Tidak masalah, aku bisa pergi sendiri!”
Jack meraih sepotong roti keju miliknya, mengunyahnya sambil
ikut menyaksikan siaran berita yang ditonton ayahnya. Perampokan? Ternyata di
kota-kota maju seperti di London pun masih ada orang-orang yang berbuat nekad
seperti itu. Jack tidak habis pikir, apa mereka tidak pernah berusaha
mendapatkan pekerjaan lain yang setidaknya lebih halal. Yah, memang, ayahnya
pernah bilang kalau kriminalitas itu wajar terjadi. Karena dunia tidak seramah
yang dibayangkan orang-orang.
“Dad, aku pinjam mobil.”
“Untuk apa?”
“Kau bilang ini kehidupan baruku kan?”
“Kalau begitu cobalah mobil barumu!”
“Hah?”
Ayahnya melemparkan sebuah kunci mobil dari tempatnya. Jack
segera bergerak cepat beranjak dan tidak ketinggalan sepotong roti lagi dari
piring ayahnya. Yeah, kadang kala memulai kehidupan baru harus dimulai dari
perilaku di lingkungan terkecil dulu kan? Begitu sampai di luar, Jack segera
melangkah menuju garasi mobil. Dugaan awalnya mobil keluarga ini cukup satu,
mobil kuno yang selalu dipakai ayahnya bekerja. Tapi dugaannya salah. Kejutan
sedang terjadi.
“What the…?!”
Sebuah mobil mewah jenis BMW M5
warna hitam keluaran tahun 2012 sudah terparkir rapi di garasi. Butuh waktu
sampai 30 detik bagi Jack untuk segera sadar dari lamunannya. Segera dia
menaiki mobil barunya, merasakan kenyamanan tempat duduk barunya. Dengan mobil
ini, dia bisa berkeliling London, atau bahkan seluruh Britania Raya dengan
nyaman! Jack menyalakan mobilnya, dan mulai membiarkan mobil itu bergerak atas
kehendaknya, menyusuri jalanan kota London!
Lama dia di dalam mobil, sambil
memandangi suasanan kanan dan kiri jalan yang dia lewati. Ini benar-benar
terasa seperti di rumah, sudah berbeda dengan Paris. Jack menghentikan mobilnya
di pinggir jalan yang kosong, dan kau tahu tempatnya. BigBen, salah satu simbol
Kota London. Jack mendongakkan kepalanya, menatap bagian pucuk BigBen yang
terlihat sangat kecil. Yap, tempat ini selalu terlihat romantis di malam hari,
sama seperti Menara Eiffel. Tapi yah, kalau melihat dari sejarahnya kau tidak
akan bertahan lama untuk menikmati pemandangannya.
Hampir 15 menit lamanya Jack berdiri
di tempatnya, hingga akhirnya dia memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya ke
Utara, ke kota Cambridge. Jaraknya hampir 13 km dari Pusat Kota London. Dan
yah, dia juga akan segera melanjutkan kuliahnya di Universitas Cambridge, dia
harus membiasakan dirinya mulai dari saat ini. Setiap hari dia sudah harus
pulang pergi dari London ke Cambridge, bukan sekedar untuk bersenang-senang
tentu saja. Dia sudah memutuskan ke mana dia akan melangkah, dan inilah langkah
yang dia pilih. Dan sejujurnya, perjalanan ke Cambridge bukanlah sesuatu yang
membosankan. Apalagi kalau kau berada di dalam sebuah mobil BMW. Jack masih
menikmati keadaannya saat ini, mengendarai mobil baru, sendirian.
Dan inilah dia, selamat datang di
Cambridge! Memang kota ini tidak semegah London dan tidak seindah Paris. Kota
ini terlihat cukup sederhana dengan sedikit gedung-gedung kaca bertingkat yang
mencakar langit. Para pengguna sepeda masih terlihat jelas di jalanan. Seharusnya
dia meminta Dad untuk menyewa apartemen di sini, karena Jack sudah cukup
menyukai tempat ini.
Ngomong-ngomong, perut karet Jack
sudah kembali berdemontrasi meminta asupan gizi dari negeri di luar perut. Jack
meminggirkan mobil, berhenti di depan sebuah café. Tidak buruk, yang penting
adalah kebutuhan perutnya terpenuhi kan? Tapi, baru saja Jack keluar dari
mobilnya dan melangkah, tiba-tiba saja seseorang menabraknya. Cukup keras. Jack
tidak jatuh, hanya sedikit goyah namun orang itu jatuh. Pandangan matanya bisa
melihat, sosok seorang gadis yang bisa diperkirakan usianya sama seperti Jack.
Berambut pirang dan mengenakan pakaian musim semi. Jack menatap langsung mata
biru gadis itu, indah.
“Ah, maaf, Nona..”, jangan heran
kenapa pada akhirnya justru Jack yang meminta maaf. Bukankah kebanyakan pria
selalu seperti itu?
“Tidak apa, Mister…”, balas gadis itu
sambil berdiri meraih tangan kanan Jack yang terulur.
“Kau terluka?”
“Tidak, aku baik-baik saja.”
Suasana menjadi hening untuk
beberapa saat. Saat-saat seperti ini sudah biasa terjadi pada beberapa adegan
atau kisah romantis yang ditulis oleh para penulis berimajinasi tinggi.
Biasanya sang pria akan meminta alamat atau nomor handphone dari sang gadis,
atau sebaliknya. Benarkah?
“Maaf, aku buru-buru.”
Gadis itu langsung berjalan cepat
meninggalkan Jack yang masih terpaku dengan keadaannya. Dia masih ingin melihat
keindahan mata gadis itu. Dia butuh waktu untuk menyimpannya di dalam ingatan
kepalanya. Dan baru beberapa langkah gadis itu berjalan, dia menghentikannya.
Jack sudah sangat berharap bahwa sesuatu yang menarik akan menimpanya detik
ini!
“Hei Mister. Senang bertemu
denganmu.”
Gadis itu tersenyum manis dan
mengedipkan matanya ke arah Jack. Perlu diakui, dia cukup terkesan dengan gadis
itu. Tapi bukan senyumnya saja yang membuatnya terkesan. Bagaimana dengan
dompet yang ada di tangan gadis itu, dan dengan senyumnya itu, gadis itu
menunjukkannya di depan mata Jack. Ya, dompet itu milik Jack! Gadis itu
langsung berlari cepat, tanpa menunggu waktu hingga Jack sadar.
“Hei!! Tunggu!!”
Jack berlari, mengejarnya. Tahukah
dia, bahwa segala jenis pertemuan, entah itu disengaja atau tidak pasti akan
memiliki arti tersendiri? Dia akan segera menyadari, bahwa semuanya sudah
diatur.
Termasuk siapa penghuni ‘ruang
kosong’ di dalam dirinya.





