Archive for Juni 2013

Bab 5: Kesempatan Kedua

Minggu, 23 Juni 2013
Posted by Hermino Rangga

London. Spring,8th 2012

            Hari Sabtu. Yeah!

            Pagi, sama seperti kemarin, Jack bergegas menaiki mobilnya siap menyusuri jalanan lagi. Dan tujuannya sudah jelas, hari ini dia harus menemukan dan mengetahui nama gadis pencopet itu. Mengenakan jaket hitam dengan celana jeans, Jack tampak terlihat tidak seperti pemuda tampan Britania Raya pada umumnya. Dandanannya malah terkesan sangat sederhana. Toh baginya tidak ada yang terlalu istimewa. Hal-hal istimewa seperti apapun tidak akan ada bedanya dengan hari-hari biasa, menurutnya.

            Jack sengaja membawa sarapannya ke dalam mobil, akan dia nikmati selagi melakukan perjalanan. Tapi dia juga sempat untuk mengunjungi salah satu supermarket di Charing Cross Road, membeli beberapa makanan ringan dan minuman kaleng. Dia tidak bakal tahu apa yang akan terjadi beberapa saat ke depan kan?

            Mobil BMW itu melaju dengan kecepatan sedang, melewati daerah-daerah yang dimana jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya dipisahkan dengan sebuah halaman luas untuk bertanam. Cuaca cukup mendukung dengan awan biru dan cahaya matahari yang menandakan tidak akan datang hujan untuk hari ini. Dengan begini, dia bisa tenang. Yah, tujuannya harus tercapai hari ini. Dia tidak mau menjadi gila hanya karena menginginkan sebuah nama yang tidak kunjung dia dapatkan. Tidak akan mau.

            Dan…

            Cambridge. Jack menunggu di depan café kemarin, namun di dalam mobilnya. Sambil menunggu, mulutnya tidak berhenti untuk mengunyah sepotong roti buatan ibunya. Pandangan matanya selalu waspada, mengawasi siapa-siapa saja yang melewati mobilnya. Belum ada tanda-tanda sama sekali. Jack menyandarkan tubuhnya ke belakang, membuat posisinya nyaman senyaman mungkin. Suasana di dalam mobilnya sunyi, dia tidak ada niat menghidupkan lagu-lagu yang ada. Dia ingin menunggu, dengan keadaan yang tenang.

            1 jam, mungkin Jack sudah menghabiskan satu minuman kaleng ditambah beberapa makanan ringan.

            Dan sampai 3 jam, masih belum ada tanda-tandanya.

            Malah, cuaca mendadak berubah. Awan menjadi gelap. Matahari mulai beranjak, seakan-akan ini waktunya untuk kembali tidur. Awan hitam menjadi penghias langit pagi itu. Pukul 10, dan sudah akan hujan? Untungnya Jack berada di dalam mobil. Dan benar saja, tidak lama kemudian hujan turun. Awalnya hanya beberapa tetesan namun lama kelamaan semakin deras dan mereka datang dalam waktu yang bersamaan. Dengan keadaan seperti ini, sudah mustahil bagi Jack untuk menemukan gadis itu kan? Mungkin, ini bukan waktunya (lagi).

            Jack menghidupkan mesin mobilnya lagi, dan BWM hitam itu maju perlahan meninggalkan tempatnya semula. Mobil itu berjalan pelan, karena pengemudinya nampak masih penasaran dengan ‘sesuatu’ yang dia cari. Matanya terus bergerak ke kanan maupun ke kiri jalanan. Tidak ada. Okay, harapannya pupus untuk hari ini. Mungkin hari ini tidak berjalan sesuai dengan apa yang dia inginkan.

            Bukan hidupnya yang buruk, hanya hari yang buruk.

            Namun, yang namanya takdir sudah pasti tidak bisa berubah. Dimana ada usaha, tidak jauh dari situ pasti aka nada hasil yang tampak. Pandangan mata Jack menangkap sesosok perempuan duduk sendirian berteduh di sebuah halte dengan keadaan memeluk dirinya sendiri. Jack membuka sedikit kaca mobilnya, memicingkan matanya, memastikan apakah itu yang dia cari. Dalam sekejap, kedua matanya seakan-akan terbuka. Rasanya seperti ketika pertama kali mendapatkan hadiah pertama Natal dari Santa! Jack meminggirkan mobilnya ke arah halte. Dia kemudian turun, menuju arah gadis itu.

            “Kelihatannya kau kedinginan…”, ujar Jack sambil melepaskan jaket hitam yang dia kenakan. Dan kini tubuhnya hanya berlapiskan kaos hitam polos. “Pakailah.”

            Jack menyelimutkan jaket miliknya pada gadis berambut pirang itu. Tentu saja dia ikhlas melakukan ini sekalipun permukaan kulitnya harus tersiksa dengan dinginnnya angina yang bertiup kencang. Gadis itu sama sekali tidak berbicara. Bibirnya nampak bergetar menahan dingin. Jack mengerti.

            “Ayo, kuantar kau ke rumahmu.”

            Jack membimbing gadis itu masuk ke mobilnya, dan anehnya gadis itu tidak melakukan hal-hal yang aneh. Nah, sekarang Jack sudah kembali ke kursi kemudinya dengan gadis itu di sampingnya.

            “Dimana rumahmu?”

            Masih tidak ada jawaban sama sekali dari gadis itu. Masih bersikukuh untuk diam, menahan rasa dingin.

            “Hm, kurasa kau butuh sedikit hiburan.”

            Jack tahu ke mana dia harus membawa gadis itu. Jack mengarahkan mobilnya keluar dari Kota Cambridge, tujuannya adalah London. Entah apa yang membuat Jack berpikir kalau membawa gadis itu ke London akan membuatnya berbicara. Jack tahu apa yang dia lakukan dan dia pasti akan bertanggung jawab atas apa yang dia perbuat.

            “Ini, makanlah. Bisa menghangatkan tubuhmu.”, Jack mengulurkan tangannya, memberikan sepotong cokelat yang dia beli. Kata Ibunya, cokelat punya khasiat untuk menghangatkan tubuh. Mungkin?

            Gadis itu menggigit sedikit ujung cokelat batangan itu. Mengunyahnya, dan terus melakukannya berulang-ulang.

            “Aku akan membawamu ke London….”

            Seketika gadis itu nampak bingung, dan memasang raut wajah yang mengartikan bahwa seakan-akan dia akan diculik.

            “Tenang, aku tidak akan melaporkanmu ke polisi.”

            Gadis itu kembali duduk tenang, bersandar pada kursinya. Memandang keluar jendela yang mulai menampakkan gedung-gedung tinggi. Mereka sudah hampir sampai di London. Ternyata, di London pun juga hujan. Sepertinya merata ke seluruh Britania Raya. Sejujurnya, di dalam hati Jack amat senang dengan keberadaan gadis itu di sampingnya saat ini. Rasanya seperti mimpi. Sungguh.


“Lihat, London’s Eye selalu terlihat begitu indah ya. Haha.”

            Benar, Jack mengajak gadis itu untuk melihat-lihat bagaimana indahnya London dengan segala ‘benda-benda’ kebanggaan mereka. Gadis itu nampak takjub dengan benda raksasa yang kokoh tinggi menjulang itu. Sayangnya ini hujan, kalau tidak mungkin Jack akan mengajak gadis itu untuk berkeliling. Yah seandainya saja. Baiklah, pemberhentian selanjutnya tentu saja tempat ‘itu’ kan.


            

            “Nah, bangunan luar biasa ini selalu bisa menghiburku.”

“Apa namanya?”

            Akhirnya gadis itu memperdengarkan suaranya. Terdengar sangat lembut, sama seperti pertama kali mereka bertemu di depan café kemarin. Ini dia, sepertinya cara yang digunakan Jack berhasil ya? Aneh, gadis itu sampai tidak tahu nama bangunan yang cukup terkenal di Britania Raya ini?

            “BigBen, itu namanya.”
            Mereka terus berkeliling, dengan keadaan di luar yang sudah agak berbeda. Hujan sudah agak reda. Tidak terasa, sudah lebih dari 2 jam mereka bersama duduk berdampingan di dalam mobil. Dan sudah saatnya Jack kembali membawa gadis itu ke Cambridge.

            “Kenapa kau melakukan ini?”

            “Eh?”

            “Kenapa kau mengajakku ke tempat ini?”

            “Entahlah. Kurasa kau butuh hiburan.”

            Selama sisa perjalanan mereka, keadaan sunyi. Namun Jack senang. Paling tidak dia bisa sesekali melirik gadis itu yang sedang termenung. Baginya tampak lebih indah. Oh ya, dia tidak boleh melupakan apa tujuannya kan? Ya! Ini kesempatan keduanya dan tidak boleh dia lewatkan! Ini waktu yang tepat untuk melakukannya! Akan terlihat seperti orang bodoh saja kalau sampai dia terlena dengan kesenangan yang sesaat tanpa mengenal namanya.

            “Aku Jack McKinley. Namamu?”

            “Laura. Laura Baines.”

            “Hm, baiklah Laura. Ke mana aku harus mengantarmu?”

            “Cukup di depan café kemarin saja. Aku bisa jalan sendiri.”

            Tanpa banyak bertanya lagi, Jack segera mengantarkan Laura di depan café. Dia tidak mau terlalu memaksakan diri dengan bertanya sebenarnya rumah Laura. Wanita tidak akan terlalu suka hal seperti itu kan? Hari ini benar-benar luar biasa untuknya.

            “Terima kasih. Ini, jaketmu.”

            “Tidak masalah. Em, Laura…?”

            “Apa?”

            “Kira-kira, dimana aku bisa menemukanmu? Selain di sini?”, di depan café ini. Pasti ada tempat lain yang dijadikan Laura sebagai tempat favoritnya kan.

            “Entahlah. Aku orangnya mudah bosan. Jack, aku harus buru-buru pulang. Thanks atas semuanya. Dan maaf soal yang kemarin.”

            Lagi-lagi gadis itu langsung berlari tanpa menunggu jawaban satu patah kata pun dari Jack. Tapi Jack cukup meresponnya dengan senyumnya. Yah dia sudah cukup beruntung bisa mengenal Laura. Dia ingin kenal lebih jauh lagi dengan gadis itu. Mungkin kalau dia menceritakan kisah ini pada Zack, saudaranya akan langsung mengolok-oloknya karena ‘jatuh cinta’ pada seorang pencopet yang bahkan tidak mengenal BigBen. Tapi benar, Jack sungguh-sungguh ingin lebih lama dengan Laura.

Ya, dia benar-benar sudah jatuh cinta. Inilah lembaran baru yang menutup masa lalunya.

Bab 4: Pendatang Baru

Posted by Hermino Rangga

“Hei! Kembalikan!!”

            Sambil berlari, Jack mencoba meneriakkan kata-kata yang mungkin bisa ‘meluluhkan’ niat gadis pencopet itu. Jack terus berlari di belakang sang pencopet yang nampaknya sudah handal karena larinya juga cukup cepat untuk seorang wanita. Dan lagi, jalan yang dilalui pun sepertinya sudah seperti kebiasaan tersendiri untuk gadis itu.

            Jack cukup berharap bahwa jalanan ramai di depan sana setidaknya bisa menghambat laju gadis yang tak diketahui namanya itu. Tapi apa mau dikata, gadis itu tetap berlari kencang menerobos tubuh-tubuh yang ada di depannya, melewati mereka semua seakan-akan ini adalah hidup terakhirnya di dunia. Meski begitu, sebagai pria tentu saja Jack tidak akan mudah menyerah, apalagi dia harus merelakan beberapa lembar uang miliknya secara cuma-cuma pada seseorang yang tidak dia kenal sama sekali.

            Semakin lama, Jack merasa bahwa keadaan disekitarnya sudah berubah. Dia tidak lagi berada di sebuah jalanan yang ramai dilalui orang-orang. Malah, kini dia berada di antara gang-gang sempit yang berada di tengah-tengah beberapa rumah bertingkat. Kedua bola mata Jack menangkap pagar tinggi, tak jauh dari tempatnya saat ini masih berlari. Dan lihatlah, gadis itupun berhenti dan berbalik menghadap Jack yang kini sudah sangat terengah-engah, mencoba mengatur nafasnya kembali normal.

            “Hei… Kembalikan…”

            Pemuda itu terdengar memelas dari suaranya. Wajar saja, sudah cukup jauh perjalanannya tadi ditambah harus berlari mengejar pencopet lincah yang mungkin saja mempunyai sepatu ajaib yang bisa melipatgandakan kecepatan larinya.

            “Huh! Ini, ambilah! Dan lekas pergi dari sini, Tuan.”

            Apa-apaan itu? Jack melihat gadis itu melemparkan dompetnya, dan kini sudah ada di dekat kaki Jack. Kenapa tidak dari tadi saja gadis itu menyerahkannya? Apa dia pikir Jack adalah laki-laki yang mudah menyerah? Jack merasa cukup lega dengan keringanan yang diberikan gadis itu padanya. Namun tak lama kemudian, gadis itu kembali berlari dan melompati pagar tinggi yang terbuat dari kawat. Sangat lincah dan cerdik! Jack tentu tidak ingin menghilangkan sesuatu yang indah buatnya hari ini. Diapun berlari, meski tidak melompati pagar kawat di depannya.

            “I think I’m in love..”, suara Jack terdengar seperti sebuah bisikan yang amat sangat pelan.

            “HEI! SIAPA NAMAMU?!”, Jack kali ini mesti menjerit karena jaraknya dengan gadis itu sudah lumayan jauh. Dan belum lagi pagar pembatas yang kini memisahkan mereka.

                        Beberapa saat kemudian gadis itu menghilang di sebuah belokan. Jack melangkah pelan untuk mengambil dompetnya yang masih tergeletak di atas tanah, dan memeriksa keadaannya. Masih sama, tidak ada yang berkurang sama sekali. Inilah yang membuat Jack cukup heran. Sebenarnya, apa tujuan gadis yang tidak ingin memberitahukan namanya itu? Jack menoleh lagi ke arah pagar kawat tadi, berharap kalau gadis itu akan kembali.

            “SENANG BERTEMU DENGANMU!”
           
            Seakan-akan gadis itu akan mendengarkan teriakannya. Hah bodoh.

            Sudah cukup sepertinya. Mungkin ini belum waktunya. Jack bisa berharap pertemuannya dengan gadis itu merupakan sebuah awal baru dari kehidupannya di London. Mungkin dia sudah menemukan tinta yang akan dia gunakan untuk menorehkan kata-kata indah di atas secarik kertas kosong. Terlalu berharap bukan masalah, selama dia juga mengiringinya dengan usaha, dia percaya dia bisa. Pasti.

            Ngomong-ngomong, dia sudah harus kembali ke rumahnya.



“Hmm…”

Jack kembali ke jalanan Kota London yang sudah ramai lagi. Wajar saja, sekarang sudah pukul 10 pagi dan tidak terasa sudah 3 jam Jack menghabiskan waktunya di luar rumah. Setidaknya dia mendapatkan ‘sesuatu’ untuk dirinya. Tidak, dia tidak akan bertindak bodoh dengan membagi kisahnya dengan saudara kembarnya. Dia ingin menyimpan kisah barunya ini untuk dirinya sendiri.  Yah, sebuah dongeng indah dari Kota Cambridge yang akan jadi bunga mimpi indahnya.

“Bagaimana mobil barumu, Jack?”, terdengar suara Zack ketika Jack baru saja turun dari mobilnya di depan garasi.

“Cukup menyenangkan dan cepat. Mau coba?”

“Aku tidak tertarik.”

Tidak mungkin. Jack tahu, sebenarnya saudara kembarnya itu juga menginginkan hal yang sama dengan Jack. Hanya saja, mungkin karena faktor Jack yang ‘sedikit’ lebih tualah yang membuatnya sedikit beruntung. Jadi ceritanya, setiap hari Jack akan membawa mobilnya dengan Zack yang akan duduk dengan rapi di sampingnya ke Universitas Cambridge. Yah, mereka berada di satu sekolah kali ini.

“Sudah bertemu gadis London hm?”, kali ini suara ayahnya yang terdengar, beberapa langkah setelah Jack masuk ke dalam rumah.

“Yep, mereka lebih seksi.”

“Tentu saja. Hahahaha!”

Jack langsung pergi ke kamarnya, memperhatikan kalender yang tergantung di dinding kamarnya. Masih ada sekitar 2 minggu sampai tahun ajaran baru dimulai. Dan itu artinya masih ada cukup waktu untuk bersenang-senang di sini, pikirnya. Jack merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang empuk, menatap langit-langit kamarnya. Terbayangkan lagi wajah gadis pencopet yang ditemuinya tadi. Indah.

“Maybe I’m in love.”

Jack menutup matanya, dan terlihat pula segurat senyuman tipis di wajahnya. Ingin rasanya dia beranjak ke dunia mimpi dan bertemu gadis itu lagi. Satu hal yang tidak akan dia lewatkan ketika bertemu dengan gadis itu lagi adalah menanyakan namanya. Dia tidak mau tergila-gila pada sosok gadis yang tidak diketahui namanya. Ya, dia harus tahu nama gadis itu bagaimanapun caranya.

Setidaknya sekarang Jack sudah tahu. Bahwa cinta tidak bisa ditebak kapan dia datang, dimana dia akan muncul dan bagaimana dia masuk ke dalam hari seseorang.
 

Bab 3: Awal Kehidupan

Sabtu, 22 Juni 2013
Posted by Hermino Rangga


London. Spring, June 7th 2012

Sinar mentari pagi masuk menembus jendela kamar Jack. Tangannya tidak tahan untuk segera menutupi kedua pandangan matanya dari serangan sinar mentari yang menyilaukan. Dengan amat sangat terpaksa, Jack segera beranjak dari posisi tidurnya, untuk kemudian duduk di pinggiran tempat tidur. Dalam keadaan setengah sadar, pemuda ini memandangi seisi kamarnya. Yah, setidaknya dia sudah menghabiskan waktu satu hari penuh untuk merapikan kamarnya, kemarin. Novel-novel koleksi miliknya sudah tersusun di tempat yang layak. Baju-baju di dalam koper pun sudah dikeluarkan dan kini sudah ada di dalam lemari pakaian yang letaknya bersebelahan dengan meja belajar.

Jack keluar dari kamarnya, menuruni satu per satu anak tangga menuju ruang makan yang ada di bawah. Di ruang makan, ayahnya sedang menikmati sarapan berupa beberapa potong roti keju sambil menyaksikan tayangan berita di layar kaca. Ibunya baru saja selesai meletakkan potongan roti terakhir di atas piring kosong di atas meja makan. Dan saudara kembarnya, Zack, hanya duduk belum menyentuh hidangan yang ada dihadapannya.

“Mimpi buruk, eh?”, ujar Jack yang langsung duduk tepat di samping saudara kandungnya itu.

“Tidak. Aku hanya sedang tidak berselera.”

“Ayolah Zack, kau bisa membawaku jalan-jalan hari ini!”

“Maaf, aku ada janji lain. Lain kali saja.”

Usai berkata begitu Zack langsung beranjak dari tempatnya duduk, membawa piring sarapannya, kembali naik ke atas. Sudah jelas bahwa saudaranya itu lebih menikmati sarapan sendirian di kamarnya. Yang menurutnya ‘nyaman’.

“Tidak masalah, aku bisa pergi sendiri!”

Jack meraih sepotong roti keju miliknya, mengunyahnya sambil ikut menyaksikan siaran berita yang ditonton ayahnya. Perampokan? Ternyata di kota-kota maju seperti di London pun masih ada orang-orang yang berbuat nekad seperti itu. Jack tidak habis pikir, apa mereka tidak pernah berusaha mendapatkan pekerjaan lain yang setidaknya lebih halal. Yah, memang, ayahnya pernah bilang kalau kriminalitas itu wajar terjadi. Karena dunia tidak seramah yang dibayangkan orang-orang.

“Dad, aku pinjam mobil.”

“Untuk apa?”

“Kau bilang ini kehidupan baruku kan?”

“Kalau begitu cobalah mobil barumu!”

“Hah?”

Ayahnya melemparkan sebuah kunci mobil dari tempatnya. Jack segera bergerak cepat beranjak dan tidak ketinggalan sepotong roti lagi dari piring ayahnya. Yeah, kadang kala memulai kehidupan baru harus dimulai dari perilaku di lingkungan terkecil dulu kan? Begitu sampai di luar, Jack segera melangkah menuju garasi mobil. Dugaan awalnya mobil keluarga ini cukup satu, mobil kuno yang selalu dipakai ayahnya bekerja. Tapi dugaannya salah. Kejutan sedang terjadi.

“What the…?!”

            Sebuah mobil mewah jenis BMW M5 warna hitam keluaran tahun 2012 sudah terparkir rapi di garasi. Butuh waktu sampai 30 detik bagi Jack untuk segera sadar dari lamunannya. Segera dia menaiki mobil barunya, merasakan kenyamanan tempat duduk barunya. Dengan mobil ini, dia bisa berkeliling London, atau bahkan seluruh Britania Raya dengan nyaman! Jack menyalakan mobilnya, dan mulai membiarkan mobil itu bergerak atas kehendaknya, menyusuri jalanan kota London!

            Lama dia di dalam mobil, sambil memandangi suasanan kanan dan kiri jalan yang dia lewati. Ini benar-benar terasa seperti di rumah, sudah berbeda dengan Paris. Jack menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang kosong, dan kau tahu tempatnya. BigBen, salah satu simbol Kota London. Jack mendongakkan kepalanya, menatap bagian pucuk BigBen yang terlihat sangat kecil. Yap, tempat ini selalu terlihat romantis di malam hari, sama seperti Menara Eiffel. Tapi yah, kalau melihat dari sejarahnya kau tidak akan bertahan lama untuk menikmati pemandangannya.

            Hampir 15 menit lamanya Jack berdiri di tempatnya, hingga akhirnya dia memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya ke Utara, ke kota Cambridge. Jaraknya hampir 13 km dari Pusat Kota London. Dan yah, dia juga akan segera melanjutkan kuliahnya di Universitas Cambridge, dia harus membiasakan dirinya mulai dari saat ini. Setiap hari dia sudah harus pulang pergi dari London ke Cambridge, bukan sekedar untuk bersenang-senang tentu saja. Dia sudah memutuskan ke mana dia akan melangkah, dan inilah langkah yang dia pilih. Dan sejujurnya, perjalanan ke Cambridge bukanlah sesuatu yang membosankan. Apalagi kalau kau berada di dalam sebuah mobil BMW. Jack masih menikmati keadaannya saat ini, mengendarai mobil baru, sendirian.

            Dan inilah dia, selamat datang di Cambridge! Memang kota ini tidak semegah London dan tidak seindah Paris. Kota ini terlihat cukup sederhana dengan sedikit gedung-gedung kaca bertingkat yang mencakar langit. Para pengguna sepeda masih terlihat jelas di jalanan. Seharusnya dia meminta Dad untuk menyewa apartemen di sini, karena Jack sudah cukup menyukai tempat ini. 

            Ngomong-ngomong, perut karet Jack sudah kembali berdemontrasi meminta asupan gizi dari negeri di luar perut. Jack meminggirkan mobil, berhenti di depan sebuah café. Tidak buruk, yang penting adalah kebutuhan perutnya terpenuhi kan? Tapi, baru saja Jack keluar dari mobilnya dan melangkah, tiba-tiba saja seseorang menabraknya. Cukup keras. Jack tidak jatuh, hanya sedikit goyah namun orang itu jatuh. Pandangan matanya bisa melihat, sosok seorang gadis yang bisa diperkirakan usianya sama seperti Jack. Berambut pirang dan mengenakan pakaian musim semi. Jack menatap langsung mata biru gadis itu, indah.

            “Ah, maaf, Nona..”, jangan heran kenapa pada akhirnya justru Jack yang meminta maaf. Bukankah kebanyakan pria selalu seperti itu?

            “Tidak apa, Mister…”, balas gadis itu sambil berdiri meraih tangan kanan Jack yang terulur.

            “Kau terluka?”

            “Tidak, aku baik-baik saja.”

            Suasana menjadi hening untuk beberapa saat. Saat-saat seperti ini sudah biasa terjadi pada beberapa adegan atau kisah romantis yang ditulis oleh para penulis berimajinasi tinggi. Biasanya sang pria akan meminta alamat atau nomor handphone dari sang gadis, atau sebaliknya. Benarkah?

            “Maaf, aku buru-buru.”

            Gadis itu langsung berjalan cepat meninggalkan Jack yang masih terpaku dengan keadaannya. Dia masih ingin melihat keindahan mata gadis itu. Dia butuh waktu untuk menyimpannya di dalam ingatan kepalanya. Dan baru beberapa langkah gadis itu berjalan, dia menghentikannya. Jack sudah sangat berharap bahwa sesuatu yang menarik akan menimpanya detik ini!

            “Hei Mister. Senang bertemu denganmu.”

            Gadis itu tersenyum manis dan mengedipkan matanya ke arah Jack. Perlu diakui, dia cukup terkesan dengan gadis itu. Tapi bukan senyumnya saja yang membuatnya terkesan. Bagaimana dengan dompet yang ada di tangan gadis itu, dan dengan senyumnya itu, gadis itu menunjukkannya di depan mata Jack. Ya, dompet itu milik Jack! Gadis itu langsung berlari cepat, tanpa menunggu waktu hingga Jack sadar.

            “Hei!! Tunggu!!”

            Jack berlari, mengejarnya. Tahukah dia, bahwa segala jenis pertemuan, entah itu disengaja atau tidak pasti akan memiliki arti tersendiri? Dia akan segera menyadari, bahwa semuanya sudah diatur.

            Termasuk siapa penghuni ‘ruang kosong’ di dalam dirinya.
Welcome to My Blog

Mengenai Saya

Foto saya
FreelanceWriter | RP-er | Manusia Sejarah Undip'14 | Juventini

Pengunjung

Teman

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © Kisah Klasik -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -