Posted by : Hermino Rangga
Jumat, 21 Juni 2013
Paris. Spring, June 5th
2012
“Nah, beres!”
Hari
ini kamar Jack sudah tampak berbeda dari yang terakhir kali terlihat. Buku-buku
yang semula berserakan di setiap sudut kamar, kini sudah tersusun rapi di dalam
kotak kardus. Kabel-kabel laptop dan lain-lain juga sudah dimasukkan ke dalam
satu tas ransel. Baju-baju yang tak terlipat awalnya, kini sudah terlipat rapi
dan tersusun di dalam satu koper besar. Poster-poster bergambar Sherlock Holmes
maupun Arsene Lupin yang menempel di dinding sudah dilepas dan dirapikan di
dalam tas. Jaket hitam ditambah celana jeans hitam menjadi pelengkap penampilan
Jack pagi itu.
Tidak
terasa, dua hari sudah dia dinyatakan lulus dari sekolahnya. Dan kini, Jack
sudah siap melangkah ke perguruan tinggi yang dia tuju, Universitas Oxford di
London. Sudah lama Jack memimpikan kembali ke tanah kelahirannya, yang juga
tempat dimana Sherlock Holmes begitu terkenal di buku-buku novel miliknya.
Rasanya dia sudah tidak sabar untuk segera beranjak meninggalkan Paris dan
membuka lembaran baru di London. Sudah saatnya dia melupakan segala luka yang
dia dapat selama tinggal di Paris dan mencari bahagia di London. Semoga saja.
Pagi
ini sengaja ayah dan ibunya datang menjemput Jack, dari London menggunakan
mobil pribadi keluarga. Tak ketinggalan saudara kembarnya, Zack yang usianya
lebih muda 5 menit. Jack membawa semua barang yang dia punya, mengangkutnya ke
dalam mobil yang ukurannya lumayan besar. Bagasi bagian belakang sudah terisi
dengan barang-barang milik Jack. Untuk terakhir kalinya, Jack memandang
apartemen yang sudah tiga tahun menjadi tempat berteduhnya. Saatnya pergi.
Begitulah.
Perjalanan
panjang jelas akan membuat seluruh penghuni mobil kelelahan. Ayah Jack masih
tampak bersemangat mengendarai mobilnya. Sementara sang Ibu bahkan sudah
tertidur di tempat duduk depan di samping ayah. Zack? Pemuda itu masih asik
mendengarkan alunan musik dari IPhone miliknya menggunakan headset. Sedangkan
Jack, dia menyandarkan kepalanya ke kaca samping mobil, memandangi rumah-rumah
yang seakan-akan menyapa dan memberikan ucapan selamat tinggal padanya.
Saat
ini, pikirannya sedang tidak berada dengan raganya. Tiba-tiba saja, muncul
sosok Lisa di pikirannya. Lagi. Entah bagaimana, Jack masih bisa mengingat
sosok gadis yang sudah menorehkan luka yang dalam padanya. Luka yang tidak akan
ada obatnya. Beda, kisahnya beda dengan cinta Sherlock Holmes pada Irene Adler
yang tak tersampaikan karena Holmes sudah meninggal duluan sebelum menyatakan
perasaannya. Jack bisa saja menunggu hingga hubungan Lisa dan Pangerannya
retak. Atau bahkan, dia bisa menjadi orang ketiga dalam rumah tangga yang
sedang dibangun Lisa. Tapi Jack bukan pria bodoh. Dia tidak mau membuang
waktunya secara percuma untuk menunggu. Sudah cukup 3 tahun untuknya. Jadi,
sekarang tidak salah jika dia harus mulai mencari.
Mobilnya
kali ini tengah melaju di jalanan kota Esch, Luxembourg. Beberapa waktu lalu
mobil ini sudah berhenti untuk mengisi bahan bakar dan Jack memanfaatkan waktu
itu untuk membuang air kecil yang sedari ditahannya. Perjalanan panjang memang
kadang tidak nyaman, meskipun tersaji begitu banyak pemandangan indah ketika
dilewati. Ibunya kini sudah tertidur, sementara Zack masih terus bertahan
memandangi ‘mainan’ yang ada di tangannnya. Langit sudah mulai terasa gelap dan
udara sudah mulai dingin menusuk tulang. Jack menaikkan jendela mobil,
menghalangi angin yang dingin masuk ke dalam.
Waktu
sudah menunjukkan pukul 7 malam, dan mereka kini berada di jalanan kota
Brussels, Belgia. Lampu-lampu jalan sudah mulai dihidupkan, memberikan
keindahan tersendiri untuk jalanan di malam hari. Satu per satu bintang mulai
tampak bermunculan menemani sang Bulan yang kesepian di tengah dinginnya malam.
Jack melirik kea rah Zack yang secara ajaib tengah tertidur. Diambilnya secara
perlahan IPhone milik Zack, memasang kedua headset ke kedua telinganya.
Sementara jari-jari tangan kanannya bergerak mencari lagu yang setidaknya bisa
sedikit menyesuaikan dengan keadaannya saat ini. Entahlah, Jack tidak tahu
secara jelas apa yang sedang dia rasakan. Dan dia sudah memilih lagunya.
But I'm not the man your heart is missing…
That's why you go away I know..
That's why you go away I know..
Penggalan lirik lagu ‘That’s Why You Go’ dari Michael Learn To Rock menjadi penghias malam Jack.
Kalau kata anak-anak zaman sekarang, ini yang dinamakan ‘galau’? Entahlah, Jack
tidak punya waktu untuk mencari tahu arti dari kosa kata baru yang tidak terdapat
di dalam kamus Bahasa. Menurutnya, lagu yang dibawakan secara indah ini sudah
cukup untuk menggambarkan bagaimana keadaannya saat ini. Ya, dia sudah mengerti
sepenuhnya. Lagu yang membuatnya tanpa sadar lambat laun mulai melemahkan kedua
matanya. Lagu itu mengiringi langkahnya menuju alam mimpi.
Alam dimana dia bisa memiliki apapun yang dia inginkan. Tanpa
terikat.
Perlahan Jack mencoba membuka kedua matanya, mencoba sadar
sepenuhnya dari tidur nyenyaknya. Masih terdengar lirik lagu yang sama seperti
sebelumnya, entah sudah berapa kali lagu itu terputar. Dilihatnya di samping,
Zack masih tertidur. Ibunya pun begitu. Sementara ayahnya masih menyetir mobil
dengan keadaan yang terlihat kelelahan.
“Welcome home, Jack!”, ujar Ayahnya dengan semangat.
Jack mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Bisa
dilihatnya, BigBen, yang menjadi salah satu symbol kota London, tempat
kelahirannya. Nah, mereka sudah sampai sepertinya. Jalanan kota London sudah
cukup ramai, padahal waktu masih menunjukkan pukul 6 pagi. Jack melepaskan
kedua headset yang terpasang di telinganya, tersenyum memandangi jalanan kota
London yang menenangkan. Kali ini dia bisa melihat London’s Eye yang berdiri
kokoh, seakan-akan diam memandangi situasi seluruh London.
Nah, ini dia, Charing Cross Road, sebuah jalan di pusat Kota
London yang biasanya akan terlihat sangat ramai, apalagi di akhir pekan. Tidak
heran, di pinggir jalanan ini terpdat begitub banyak toko yang menjual aneka
keperluan. Toko-toko berjajar rapi di pinggiran jalanannya. Terlihat beberapa
pedagang kecil sudah membuka lapak mereka di emperan jalan yang masih
menyisakan ruang untuk mereka mencari nafkah. Dan coba lihat, di sana terdapat
Quinto Bookshop! Tempat itu merupakan toko buku yang paling sering Jack kunjungi
saat masih menetap lama di London. Inilah yang dia butuhkan, sebuah kenangan
indah yang bisa menenangkan hati dan pikirannya.
Tak lama, sampailah mereka di Perumahan Crystal Palace,
tepatnya di bagian Selatan kota London. Perumahan ini termasuk salah satu
perumahan yang cukup mewah di London. Terdapat taman, danau, dan tempat hiburan
lain di dalamnya. Rumah Jack sendiri berada di Block ketiga dan cari saja rumah
bertingkat bercat warna putih dengan angka ‘3’ menggantung di depan pintunya.
Ayah Jack memakirkan mobil tepat di depan pintu garasi rumah. Ibu dan Zack juga
sudah bangun, sadar bahwa mereka sudah sampai.
“Nah, saatnya memulai kehidupan barumu, Nak!”
Yah, benar, kehidupan baru. Lembaran baru maksudnya.
Ibaratnya, kedatangan Jack ke London ini adalah sebuah ‘penyucian’. Dia kembali
menjadi secarik kertas putih bersih yang belum ditorehkan oleh tinta jenis
apapun. Kertas yang belum ternodai dengan tinta hitam yang mempunyai arti
buruk, atau mungkin tinta emas yang berarti keberhasilan. Saat ini, dia masih
polos. Masih mencoba menemukan tinta yang akan dia torehkan sendiri ke lembaran
hidupnya yang baru, di London.
Jack sudah membuat pilihan, dan dia tidak akan menoleh ke
belakang. Simple.


