Posted by : Hermino Rangga Minggu, 23 Juni 2013


“Hei! Kembalikan!!”

            Sambil berlari, Jack mencoba meneriakkan kata-kata yang mungkin bisa ‘meluluhkan’ niat gadis pencopet itu. Jack terus berlari di belakang sang pencopet yang nampaknya sudah handal karena larinya juga cukup cepat untuk seorang wanita. Dan lagi, jalan yang dilalui pun sepertinya sudah seperti kebiasaan tersendiri untuk gadis itu.

            Jack cukup berharap bahwa jalanan ramai di depan sana setidaknya bisa menghambat laju gadis yang tak diketahui namanya itu. Tapi apa mau dikata, gadis itu tetap berlari kencang menerobos tubuh-tubuh yang ada di depannya, melewati mereka semua seakan-akan ini adalah hidup terakhirnya di dunia. Meski begitu, sebagai pria tentu saja Jack tidak akan mudah menyerah, apalagi dia harus merelakan beberapa lembar uang miliknya secara cuma-cuma pada seseorang yang tidak dia kenal sama sekali.

            Semakin lama, Jack merasa bahwa keadaan disekitarnya sudah berubah. Dia tidak lagi berada di sebuah jalanan yang ramai dilalui orang-orang. Malah, kini dia berada di antara gang-gang sempit yang berada di tengah-tengah beberapa rumah bertingkat. Kedua bola mata Jack menangkap pagar tinggi, tak jauh dari tempatnya saat ini masih berlari. Dan lihatlah, gadis itupun berhenti dan berbalik menghadap Jack yang kini sudah sangat terengah-engah, mencoba mengatur nafasnya kembali normal.

            “Hei… Kembalikan…”

            Pemuda itu terdengar memelas dari suaranya. Wajar saja, sudah cukup jauh perjalanannya tadi ditambah harus berlari mengejar pencopet lincah yang mungkin saja mempunyai sepatu ajaib yang bisa melipatgandakan kecepatan larinya.

            “Huh! Ini, ambilah! Dan lekas pergi dari sini, Tuan.”

            Apa-apaan itu? Jack melihat gadis itu melemparkan dompetnya, dan kini sudah ada di dekat kaki Jack. Kenapa tidak dari tadi saja gadis itu menyerahkannya? Apa dia pikir Jack adalah laki-laki yang mudah menyerah? Jack merasa cukup lega dengan keringanan yang diberikan gadis itu padanya. Namun tak lama kemudian, gadis itu kembali berlari dan melompati pagar tinggi yang terbuat dari kawat. Sangat lincah dan cerdik! Jack tentu tidak ingin menghilangkan sesuatu yang indah buatnya hari ini. Diapun berlari, meski tidak melompati pagar kawat di depannya.

            “I think I’m in love..”, suara Jack terdengar seperti sebuah bisikan yang amat sangat pelan.

            “HEI! SIAPA NAMAMU?!”, Jack kali ini mesti menjerit karena jaraknya dengan gadis itu sudah lumayan jauh. Dan belum lagi pagar pembatas yang kini memisahkan mereka.

                        Beberapa saat kemudian gadis itu menghilang di sebuah belokan. Jack melangkah pelan untuk mengambil dompetnya yang masih tergeletak di atas tanah, dan memeriksa keadaannya. Masih sama, tidak ada yang berkurang sama sekali. Inilah yang membuat Jack cukup heran. Sebenarnya, apa tujuan gadis yang tidak ingin memberitahukan namanya itu? Jack menoleh lagi ke arah pagar kawat tadi, berharap kalau gadis itu akan kembali.

            “SENANG BERTEMU DENGANMU!”
           
            Seakan-akan gadis itu akan mendengarkan teriakannya. Hah bodoh.

            Sudah cukup sepertinya. Mungkin ini belum waktunya. Jack bisa berharap pertemuannya dengan gadis itu merupakan sebuah awal baru dari kehidupannya di London. Mungkin dia sudah menemukan tinta yang akan dia gunakan untuk menorehkan kata-kata indah di atas secarik kertas kosong. Terlalu berharap bukan masalah, selama dia juga mengiringinya dengan usaha, dia percaya dia bisa. Pasti.

            Ngomong-ngomong, dia sudah harus kembali ke rumahnya.



“Hmm…”

Jack kembali ke jalanan Kota London yang sudah ramai lagi. Wajar saja, sekarang sudah pukul 10 pagi dan tidak terasa sudah 3 jam Jack menghabiskan waktunya di luar rumah. Setidaknya dia mendapatkan ‘sesuatu’ untuk dirinya. Tidak, dia tidak akan bertindak bodoh dengan membagi kisahnya dengan saudara kembarnya. Dia ingin menyimpan kisah barunya ini untuk dirinya sendiri.  Yah, sebuah dongeng indah dari Kota Cambridge yang akan jadi bunga mimpi indahnya.

“Bagaimana mobil barumu, Jack?”, terdengar suara Zack ketika Jack baru saja turun dari mobilnya di depan garasi.

“Cukup menyenangkan dan cepat. Mau coba?”

“Aku tidak tertarik.”

Tidak mungkin. Jack tahu, sebenarnya saudara kembarnya itu juga menginginkan hal yang sama dengan Jack. Hanya saja, mungkin karena faktor Jack yang ‘sedikit’ lebih tualah yang membuatnya sedikit beruntung. Jadi ceritanya, setiap hari Jack akan membawa mobilnya dengan Zack yang akan duduk dengan rapi di sampingnya ke Universitas Cambridge. Yah, mereka berada di satu sekolah kali ini.

“Sudah bertemu gadis London hm?”, kali ini suara ayahnya yang terdengar, beberapa langkah setelah Jack masuk ke dalam rumah.

“Yep, mereka lebih seksi.”

“Tentu saja. Hahahaha!”

Jack langsung pergi ke kamarnya, memperhatikan kalender yang tergantung di dinding kamarnya. Masih ada sekitar 2 minggu sampai tahun ajaran baru dimulai. Dan itu artinya masih ada cukup waktu untuk bersenang-senang di sini, pikirnya. Jack merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang empuk, menatap langit-langit kamarnya. Terbayangkan lagi wajah gadis pencopet yang ditemuinya tadi. Indah.

“Maybe I’m in love.”

Jack menutup matanya, dan terlihat pula segurat senyuman tipis di wajahnya. Ingin rasanya dia beranjak ke dunia mimpi dan bertemu gadis itu lagi. Satu hal yang tidak akan dia lewatkan ketika bertemu dengan gadis itu lagi adalah menanyakan namanya. Dia tidak mau tergila-gila pada sosok gadis yang tidak diketahui namanya. Ya, dia harus tahu nama gadis itu bagaimanapun caranya.

Setidaknya sekarang Jack sudah tahu. Bahwa cinta tidak bisa ditebak kapan dia datang, dimana dia akan muncul dan bagaimana dia masuk ke dalam hari seseorang.
 

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Welcome to My Blog

Mengenai Saya

Foto saya
FreelanceWriter | RP-er | Manusia Sejarah Undip'14 | Juventini

Pengunjung

Teman

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © Kisah Klasik -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -