Posted by : Hermino Rangga
Minggu, 23 Juni 2013
London. Spring,8th 2012
Hari
Sabtu. Yeah!
Pagi, sama seperti kemarin, Jack bergegas menaiki
mobilnya siap menyusuri jalanan lagi. Dan tujuannya sudah jelas, hari ini dia
harus menemukan dan mengetahui nama gadis pencopet itu. Mengenakan jaket hitam
dengan celana jeans, Jack tampak terlihat tidak seperti pemuda tampan Britania
Raya pada umumnya. Dandanannya malah terkesan sangat sederhana. Toh baginya
tidak ada yang terlalu istimewa. Hal-hal istimewa seperti apapun tidak akan ada
bedanya dengan hari-hari biasa, menurutnya.
Jack sengaja membawa sarapannya ke dalam mobil, akan dia
nikmati selagi melakukan perjalanan. Tapi dia juga sempat untuk mengunjungi
salah satu supermarket di Charing Cross Road, membeli beberapa makanan ringan
dan minuman kaleng. Dia tidak bakal tahu apa yang akan terjadi beberapa saat ke
depan kan?
Mobil BMW itu melaju dengan kecepatan sedang, melewati
daerah-daerah yang dimana jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya
dipisahkan dengan sebuah halaman luas untuk bertanam. Cuaca cukup mendukung
dengan awan biru dan cahaya matahari yang menandakan tidak akan datang hujan
untuk hari ini. Dengan begini, dia bisa tenang. Yah, tujuannya harus tercapai
hari ini. Dia tidak mau menjadi gila hanya karena menginginkan sebuah nama yang
tidak kunjung dia dapatkan. Tidak akan mau.
Dan…
Cambridge. Jack menunggu di depan café kemarin, namun di
dalam mobilnya. Sambil menunggu, mulutnya tidak berhenti untuk mengunyah
sepotong roti buatan ibunya. Pandangan matanya selalu waspada, mengawasi
siapa-siapa saja yang melewati mobilnya. Belum ada tanda-tanda sama sekali.
Jack menyandarkan tubuhnya ke belakang, membuat posisinya nyaman senyaman
mungkin. Suasana di dalam mobilnya sunyi, dia tidak ada niat menghidupkan
lagu-lagu yang ada. Dia ingin menunggu, dengan keadaan yang tenang.
1 jam, mungkin Jack sudah menghabiskan satu minuman
kaleng ditambah beberapa makanan ringan.
Dan sampai 3 jam, masih belum ada tanda-tandanya.
Malah, cuaca mendadak berubah. Awan menjadi gelap.
Matahari mulai beranjak, seakan-akan ini waktunya untuk kembali tidur. Awan
hitam menjadi penghias langit pagi itu. Pukul 10, dan sudah akan hujan?
Untungnya Jack berada di dalam mobil. Dan benar saja, tidak lama kemudian hujan
turun. Awalnya hanya beberapa tetesan namun lama kelamaan semakin deras dan
mereka datang dalam waktu yang bersamaan. Dengan keadaan seperti ini, sudah
mustahil bagi Jack untuk menemukan gadis itu kan? Mungkin, ini bukan waktunya
(lagi).
Jack menghidupkan mesin mobilnya lagi, dan BWM hitam itu
maju perlahan meninggalkan tempatnya semula. Mobil itu berjalan pelan, karena
pengemudinya nampak masih penasaran dengan ‘sesuatu’ yang dia cari. Matanya
terus bergerak ke kanan maupun ke kiri jalanan. Tidak ada. Okay, harapannya
pupus untuk hari ini. Mungkin hari ini tidak berjalan sesuai dengan apa yang
dia inginkan.
Bukan hidupnya yang buruk, hanya hari yang buruk.
Namun, yang namanya takdir sudah pasti tidak bisa
berubah. Dimana ada usaha, tidak jauh dari situ pasti aka nada hasil yang
tampak. Pandangan mata Jack menangkap sesosok perempuan duduk sendirian
berteduh di sebuah halte dengan keadaan memeluk dirinya sendiri. Jack membuka
sedikit kaca mobilnya, memicingkan matanya, memastikan apakah itu yang dia
cari. Dalam sekejap, kedua matanya seakan-akan terbuka. Rasanya seperti ketika
pertama kali mendapatkan hadiah pertama Natal dari Santa! Jack meminggirkan
mobilnya ke arah halte. Dia kemudian turun, menuju arah gadis itu.
“Kelihatannya kau kedinginan…”, ujar Jack sambil
melepaskan jaket hitam yang dia kenakan. Dan kini tubuhnya hanya berlapiskan
kaos hitam polos. “Pakailah.”
Jack menyelimutkan jaket miliknya pada gadis berambut
pirang itu. Tentu saja dia ikhlas melakukan ini sekalipun permukaan kulitnya
harus tersiksa dengan dinginnnya angina yang bertiup kencang. Gadis itu sama
sekali tidak berbicara. Bibirnya nampak bergetar menahan dingin. Jack mengerti.
“Ayo, kuantar kau ke rumahmu.”
Jack membimbing gadis itu masuk ke mobilnya, dan anehnya
gadis itu tidak melakukan hal-hal yang aneh. Nah, sekarang Jack sudah kembali
ke kursi kemudinya dengan gadis itu di sampingnya.
“Dimana rumahmu?”
Masih tidak ada jawaban sama sekali dari gadis itu. Masih
bersikukuh untuk diam, menahan rasa dingin.
“Hm, kurasa kau butuh sedikit hiburan.”
Jack tahu ke mana dia harus membawa gadis itu. Jack
mengarahkan mobilnya keluar dari Kota Cambridge, tujuannya adalah London. Entah
apa yang membuat Jack berpikir kalau membawa gadis itu ke London akan
membuatnya berbicara. Jack tahu apa yang dia lakukan dan dia pasti akan
bertanggung jawab atas apa yang dia perbuat.
“Ini, makanlah. Bisa menghangatkan tubuhmu.”, Jack
mengulurkan tangannya, memberikan sepotong cokelat yang dia beli. Kata Ibunya,
cokelat punya khasiat untuk menghangatkan tubuh. Mungkin?
Gadis itu menggigit sedikit ujung cokelat batangan itu.
Mengunyahnya, dan terus melakukannya berulang-ulang.
“Aku akan membawamu ke London….”
Seketika gadis itu nampak bingung, dan memasang raut
wajah yang mengartikan bahwa seakan-akan dia akan diculik.
“Tenang, aku tidak akan melaporkanmu ke polisi.”
Gadis itu kembali duduk tenang, bersandar pada kursinya.
Memandang keluar jendela yang mulai menampakkan gedung-gedung tinggi. Mereka
sudah hampir sampai di London. Ternyata, di London pun juga hujan. Sepertinya
merata ke seluruh Britania Raya. Sejujurnya, di dalam hati Jack amat senang
dengan keberadaan gadis itu di sampingnya saat ini. Rasanya seperti mimpi.
Sungguh.
“Lihat, London’s Eye
selalu terlihat begitu indah ya. Haha.”
Benar, Jack mengajak gadis itu untuk melihat-lihat
bagaimana indahnya London dengan segala ‘benda-benda’ kebanggaan mereka. Gadis
itu nampak takjub dengan benda raksasa yang kokoh tinggi menjulang itu.
Sayangnya ini hujan, kalau tidak mungkin Jack akan mengajak gadis itu untuk
berkeliling. Yah seandainya saja. Baiklah, pemberhentian selanjutnya tentu saja
tempat ‘itu’ kan.
“Nah, bangunan luar biasa ini selalu bisa
menghiburku.”
“Apa namanya?”
Akhirnya
gadis itu memperdengarkan suaranya. Terdengar sangat lembut, sama seperti
pertama kali mereka bertemu di depan café kemarin. Ini dia, sepertinya cara
yang digunakan Jack berhasil ya? Aneh, gadis itu sampai tidak tahu nama
bangunan yang cukup terkenal di Britania Raya ini?
“BigBen,
itu namanya.”
Mereka
terus berkeliling, dengan keadaan di luar yang sudah agak berbeda. Hujan sudah
agak reda. Tidak terasa, sudah lebih dari 2 jam mereka bersama duduk
berdampingan di dalam mobil. Dan sudah saatnya Jack kembali membawa gadis itu
ke Cambridge.
“Kenapa
kau melakukan ini?”
“Eh?”
“Kenapa
kau mengajakku ke tempat ini?”
“Entahlah.
Kurasa kau butuh hiburan.”
Selama
sisa perjalanan mereka, keadaan sunyi. Namun Jack senang. Paling tidak dia bisa
sesekali melirik gadis itu yang sedang termenung. Baginya tampak lebih indah.
Oh ya, dia tidak boleh melupakan apa tujuannya kan? Ya! Ini kesempatan keduanya
dan tidak boleh dia lewatkan! Ini waktu yang tepat untuk melakukannya! Akan
terlihat seperti orang bodoh saja kalau sampai dia terlena dengan kesenangan
yang sesaat tanpa mengenal namanya.
“Aku
Jack McKinley. Namamu?”
“Laura.
Laura Baines.”
“Hm,
baiklah Laura. Ke mana aku harus mengantarmu?”
“Cukup
di depan café kemarin saja. Aku bisa jalan sendiri.”
Tanpa
banyak bertanya lagi, Jack segera mengantarkan Laura di depan café. Dia tidak
mau terlalu memaksakan diri dengan bertanya sebenarnya rumah Laura. Wanita
tidak akan terlalu suka hal seperti itu kan? Hari ini benar-benar luar biasa
untuknya.
“Terima
kasih. Ini, jaketmu.”
“Tidak
masalah. Em, Laura…?”
“Apa?”
“Kira-kira,
dimana aku bisa menemukanmu? Selain di sini?”, di depan café ini. Pasti ada
tempat lain yang dijadikan Laura sebagai tempat favoritnya kan.
“Entahlah.
Aku orangnya mudah bosan. Jack, aku harus buru-buru pulang. Thanks atas
semuanya. Dan maaf soal yang kemarin.”
Lagi-lagi
gadis itu langsung berlari tanpa menunggu jawaban satu patah kata pun dari
Jack. Tapi Jack cukup meresponnya dengan senyumnya. Yah dia sudah cukup
beruntung bisa mengenal Laura. Dia ingin kenal lebih jauh lagi dengan gadis
itu. Mungkin kalau dia menceritakan kisah ini pada Zack, saudaranya akan
langsung mengolok-oloknya karena ‘jatuh cinta’ pada seorang pencopet yang
bahkan tidak mengenal BigBen. Tapi benar, Jack sungguh-sungguh ingin lebih lama
dengan Laura.
Ya, dia benar-benar sudah jatuh cinta. Inilah
lembaran baru yang menutup masa lalunya.



