Posted by : Hermino Rangga Senin, 17 Juni 2013




Paris. Spring, 2nd 2012

        Malam itu, hujan turun dengan derasnya. Menghiasi lampu-lampu terang kota Paris dengan tetesan-tetesan air yang datang dalam waktu yang bersamaan. Jalanan kota masih terlihat ramai, beberapa orang mengenakan payung untuk melindungi tubuh mereka dari tetesan air hujan. Tidak sedikit yang memakai satu payung untuk dua orang. Katakan saja, mereka yang menggunakan satu payung untuk dua orang itu adalah para muda-mudi yang sedang merajut tali asmara. Mereka sedang berada di sebuah kisah indah yang tak pernah mereka tahu akan jadi bagaimana akhirnya. 

         Dan saat ini, di bawah Menara Eiffel yang juga dihiasi datangnya hujan, tampak seorang pemuda tanggung, dengan mengenakan jaket hitam ditambah syal hitam berdiri dalam diam sambil tangan kanannya memegangi pegangan payung yang melindunginya. Sesekali pemuda itu melirik jam tangan di tangan kirinya. Sudah hamper satu jam dia berada di tempat itu tanpa berniat untuk meninggalkan tempat itu. Kalau kau tanya kenapa, karena hari ini merupakan hari yang dinanti-nantikannya. Malam ini, dia berniat menyatakan cintanya pada orang yang selama ini dikaguminya. 3 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk memendam sesuatu tanpa diketahui siapapun.

          Dia sudah menghubungi gadis impiannya lewat pesan singkat. Dia harap gadis itu akan datang memenuhi permintaannya. Cuacanya memang tidak terlalu mendukung, tapi baginya ini sudah saat yang tepat. Karena sebentar lagi mereka akan lulus dari sekolah dan pemuda itu tidak akan mau berpisah tanpa mengungkapkan perasaannya.

          Untuk beberapa saat, pikiran pemuda itu berputar ke waktu ketika pertama kali dia merasakan jatuh cinta pada gadis itu. Sebut saja dia Lisa, salah satu mahasiswi terbaik di sekolah. Matanya yang indah terlihat di balik kacamata yang ia kenakan. Rambut panjang yang terurai dengan bebasnya tertiup angin, ditambah otaknya yang cerdas. Itu semua sudah lebih dari cukup untuk bisa dijadikan gadis idaman semua pria. Tapi seperti kebanyakan gadis-gadis ber-IQ tinggi lainnya, mereka tidak menomor satukan soal cinta. Mereka lebih memilih untuk bermesraan dengan buku-buku tebal sekolah yang sangat minim gambar. Yah, ibaratnya pemuda ini mencoba menggapai puncak menara Eiffel tanpa alat-alat bantu sama sekali.

           Hal yang sangat mustahil.

2 jam sudah berlalu, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam waktu Paris. Hujan sudah tidak sederas sebelumnya. Pemuda itu sudah melipat kembali payungnya. Lelah kedua kakinya dari tadi bertahan untuk tetap tinggal tak bergerak. Malam yang semakin larut membuatnya memutuskan untuk pergi, dengan tetap berpikir positif –menjadikan hujan sebagai alasan kenapa gadis itu tidak datang. Oke, besok. Pasti bisa.


Melangkah menyusuri malam dengan senyuman, kepala tegak dan membiarkan rambutnya basah oleh rintik-rintik hujan yang tersisa. Pandangan matanya sesekali melirik kea rah pertokoan disekitar menara Eiffel yang masih ramai. Beberapa restoran masih membuka pintunya, dan satu toko buku yang jadi langganannya juga masih buka. Beberapa pasangan masih tampak bermesraan di dalam restoran. Sungguh, Paris benar-benar menggambarkan sebuah kota yang penuh dengan cinta dan keromantisan. Senang rasanya dia bisa berada di tempat ini.

            Namun, kedua bola matanya saat ini tengah menangkap sesosok manusia yang tengah berada di dalam sebuah restoran. Berambut panjang, berkacamata, dan yah kalian tahu sendiri bagaimana deskripsinya. Mata pemuda ini terus menatapnya dari balik kaca, dengan jarak yang cukup jauh. Itu dia. Lisa! Pemuda ini senang bukan main. Tapi, kenapa Lisa berada di dalam sana? Kenapa tidak menemuinya di tempat yang sudah dijanjikan? Terlintas keinginannya untuk masuk dan menghampiri gadis itu. Tapi apa mau dikata, garis cerita romantis untuknya sepertinya tidak berada pada gadis itu.

            Beberapa saat melangkah, dilihatnya seorang pria berjas hitam dengan dandanan super mewah dan menawan, nyaris tampak seperti seorang bangsawan zaman modern. Sang Bangsawan menunjukkan sesuatu pada Lisa, yang tidak diketahui siapapun kecuali Lisa dan Bangsawan itu. Setelah beberapa detik, tampak Lisa tersenyum haru. Senyumnya menggambarkan bahwa sesuatu yang indah sedang melanda hidupnya. Sementara sang Bangsawan tampan itu terlihat tersenyum tidak kalah bahagianya ketimbang Lisa. Dan kau perlu tahu, pemuda yang sedari tadi hanya memerhatikan dari luar jendela, dengan dandanan super payahnya ini mencoba untuk mengetahui apa yang terjadi.

            Sebenarnya, dia sudah melakukan kesalahan fatal. Dia terlalu ingin tahu, tanpa peduli apa yang akan dirasakannya. Di tangan sang Bangsawan itu dia bisa melihat, sebuah kotak kecil berisi dua buah cincin berlian mahal yang harganya mungkin akan sanggup membayar biaya sewa kos selama 10 tahun ke depan.

            Waktu terasa berhenti berputar, orang-orang disekitarnya seakan-akan tegak diam membisu. Tatapan matanya terus terpaku pada dua buah benda yang berada di dalam kotak kecil itu. Hujan yang tiba-tiba datang lagi tidak membuatnya lekas memakai payungnya lagi. Dibiarkannya tetesan-tetesan air hujan menyerang seluruh tubuhnya. Menebas permukaan kulitnya secara langsung. Kata orang-orang, kena tetesan hujan itu terasa sakit, apalagi kalau langsung mengenai bagian kulitnya. Ya, memang sakit.

           Tapi, apa mereka tahu rasanya jantung hati yang tersayat benda tajam? Apa mereka tahu? Tentu saja tidak. Hanya Jack yang tahu rasanya.

           
Paginya, Jack terbaring di atas tempat tidurnya dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. Pakaian yang semalam dia kenakan masih menempel di tubuhnya. Matanya terlihat agak berbeda, disebabkan hal bodoh yang dilakukannya semalam. Dia menangis. Hal terbodoh yang dilakukan seorang pria. Baginya ini gila. Bisa-bisanya dia dibuat menangis oleh seorang gadis. Tapi dia tidak dapat mengelak dari sakit yang dia rasakan. Ini pertama kalinya Jack merasa seperti ini. Untuk semalam dia berharap bahwa dia tidak pernah dilahirkan di dunia ini, apalagi sampai dipertemukan dengan sosok Lisa.

Kamarnya dibiarkan berantakan begitu saja. Tampak beberapa buah buku tebal berserakan di sana sini. Bukan, itu bukan buku-buku tebal sekolahan. Itu merupakan novel-novel koleksinya. Jack sendiri merupakan penggemar berat karakter fiksi Sherlock Holmes ciptaan Sir Artur Conan Doyle dan juga Arsene Lupin ciptaan Maurice LeBlanc. Baginya, kedua tokoh fiksi itu ditemukan oleh takdir.

Di tengah-tengah kesedihannya, Jack sudah harus bergegas ke sekolahan untuk menghadiri upacara kelulusannya. Benar, 3 tahunnya bersekolah dengan mengenakan seragam sudah akan berakhir. Tidak lama lagi dia akan merasakan kerasnya dunia tanpa bimbingan seorangpun. Jadi tidak ada gunanya juga dia menangis terlalu lama. Toh sekarang Lisa sudah akan membangun kehidupannya sendiri. Tanpa pernah tahu bahwa seorang pria bodoh sudah menantinya selama 3 tahun ini.

Upacara pelepasan berlangsung tenang tanpa kegaduhan. Acara ini sendiri diakhiri dengan acara pengambilan gambar bersama, tidak sedikit yang menggelar acara pertumpahan air mata dengan beberapa orang temannya. Tapi tidak dengan Jack. Dia duduk sendirian, menatap kosong halaman sekolahnya. Dia mencoba untuk tidak memikirkan Lisa yang masih asik berfoto-foto dengan teman-temannya. Ya, Lisa, yang sudah Jack anggap separuh masa mudanya sudah pergi, menjadi milik orang lain. Sudah saatnya mengucapkan selamat tinggal. Masa mudanya mungkin sudah berakhir, tapi tidak hidupnya. Mungkin ada seorang perempuan yang kini tengah menanti Jack di suatu tempat. Mungkin. Dan ngomong-ngomong Lisa sudah memberitahukan kepada teman-temannya bahwa dia telah dilamar seorang pria kaya semalam. Tentu saja Jack menjadi orang pertama yang tahu.

Diawali dengan sebuah senyuman, Jack mengepalkan tangannya. Dia beranjak dari tempatnya, berjalan ke arah Lisa yang kini sudah tidak terlalu sibuk mengambil foto. Ini kesempatan terakhir untuknya. Benar.

“Selamat atas kelulusanmu. Dan selamat menempuh hidup baru, Lisa.”

Diakhiri pula dengan senyuman.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Welcome to My Blog

Mengenai Saya

Foto saya
FreelanceWriter | RP-er | Manusia Sejarah Undip'14 | Juventini

Pengunjung

Teman

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © Kisah Klasik -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -