Posted by : Hermino Rangga Sabtu, 22 Juni 2013



London. Spring, June 7th 2012

Sinar mentari pagi masuk menembus jendela kamar Jack. Tangannya tidak tahan untuk segera menutupi kedua pandangan matanya dari serangan sinar mentari yang menyilaukan. Dengan amat sangat terpaksa, Jack segera beranjak dari posisi tidurnya, untuk kemudian duduk di pinggiran tempat tidur. Dalam keadaan setengah sadar, pemuda ini memandangi seisi kamarnya. Yah, setidaknya dia sudah menghabiskan waktu satu hari penuh untuk merapikan kamarnya, kemarin. Novel-novel koleksi miliknya sudah tersusun di tempat yang layak. Baju-baju di dalam koper pun sudah dikeluarkan dan kini sudah ada di dalam lemari pakaian yang letaknya bersebelahan dengan meja belajar.

Jack keluar dari kamarnya, menuruni satu per satu anak tangga menuju ruang makan yang ada di bawah. Di ruang makan, ayahnya sedang menikmati sarapan berupa beberapa potong roti keju sambil menyaksikan tayangan berita di layar kaca. Ibunya baru saja selesai meletakkan potongan roti terakhir di atas piring kosong di atas meja makan. Dan saudara kembarnya, Zack, hanya duduk belum menyentuh hidangan yang ada dihadapannya.

“Mimpi buruk, eh?”, ujar Jack yang langsung duduk tepat di samping saudara kandungnya itu.

“Tidak. Aku hanya sedang tidak berselera.”

“Ayolah Zack, kau bisa membawaku jalan-jalan hari ini!”

“Maaf, aku ada janji lain. Lain kali saja.”

Usai berkata begitu Zack langsung beranjak dari tempatnya duduk, membawa piring sarapannya, kembali naik ke atas. Sudah jelas bahwa saudaranya itu lebih menikmati sarapan sendirian di kamarnya. Yang menurutnya ‘nyaman’.

“Tidak masalah, aku bisa pergi sendiri!”

Jack meraih sepotong roti keju miliknya, mengunyahnya sambil ikut menyaksikan siaran berita yang ditonton ayahnya. Perampokan? Ternyata di kota-kota maju seperti di London pun masih ada orang-orang yang berbuat nekad seperti itu. Jack tidak habis pikir, apa mereka tidak pernah berusaha mendapatkan pekerjaan lain yang setidaknya lebih halal. Yah, memang, ayahnya pernah bilang kalau kriminalitas itu wajar terjadi. Karena dunia tidak seramah yang dibayangkan orang-orang.

“Dad, aku pinjam mobil.”

“Untuk apa?”

“Kau bilang ini kehidupan baruku kan?”

“Kalau begitu cobalah mobil barumu!”

“Hah?”

Ayahnya melemparkan sebuah kunci mobil dari tempatnya. Jack segera bergerak cepat beranjak dan tidak ketinggalan sepotong roti lagi dari piring ayahnya. Yeah, kadang kala memulai kehidupan baru harus dimulai dari perilaku di lingkungan terkecil dulu kan? Begitu sampai di luar, Jack segera melangkah menuju garasi mobil. Dugaan awalnya mobil keluarga ini cukup satu, mobil kuno yang selalu dipakai ayahnya bekerja. Tapi dugaannya salah. Kejutan sedang terjadi.

“What the…?!”

            Sebuah mobil mewah jenis BMW M5 warna hitam keluaran tahun 2012 sudah terparkir rapi di garasi. Butuh waktu sampai 30 detik bagi Jack untuk segera sadar dari lamunannya. Segera dia menaiki mobil barunya, merasakan kenyamanan tempat duduk barunya. Dengan mobil ini, dia bisa berkeliling London, atau bahkan seluruh Britania Raya dengan nyaman! Jack menyalakan mobilnya, dan mulai membiarkan mobil itu bergerak atas kehendaknya, menyusuri jalanan kota London!

            Lama dia di dalam mobil, sambil memandangi suasanan kanan dan kiri jalan yang dia lewati. Ini benar-benar terasa seperti di rumah, sudah berbeda dengan Paris. Jack menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang kosong, dan kau tahu tempatnya. BigBen, salah satu simbol Kota London. Jack mendongakkan kepalanya, menatap bagian pucuk BigBen yang terlihat sangat kecil. Yap, tempat ini selalu terlihat romantis di malam hari, sama seperti Menara Eiffel. Tapi yah, kalau melihat dari sejarahnya kau tidak akan bertahan lama untuk menikmati pemandangannya.

            Hampir 15 menit lamanya Jack berdiri di tempatnya, hingga akhirnya dia memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya ke Utara, ke kota Cambridge. Jaraknya hampir 13 km dari Pusat Kota London. Dan yah, dia juga akan segera melanjutkan kuliahnya di Universitas Cambridge, dia harus membiasakan dirinya mulai dari saat ini. Setiap hari dia sudah harus pulang pergi dari London ke Cambridge, bukan sekedar untuk bersenang-senang tentu saja. Dia sudah memutuskan ke mana dia akan melangkah, dan inilah langkah yang dia pilih. Dan sejujurnya, perjalanan ke Cambridge bukanlah sesuatu yang membosankan. Apalagi kalau kau berada di dalam sebuah mobil BMW. Jack masih menikmati keadaannya saat ini, mengendarai mobil baru, sendirian.

            Dan inilah dia, selamat datang di Cambridge! Memang kota ini tidak semegah London dan tidak seindah Paris. Kota ini terlihat cukup sederhana dengan sedikit gedung-gedung kaca bertingkat yang mencakar langit. Para pengguna sepeda masih terlihat jelas di jalanan. Seharusnya dia meminta Dad untuk menyewa apartemen di sini, karena Jack sudah cukup menyukai tempat ini. 

            Ngomong-ngomong, perut karet Jack sudah kembali berdemontrasi meminta asupan gizi dari negeri di luar perut. Jack meminggirkan mobil, berhenti di depan sebuah cafĂ©. Tidak buruk, yang penting adalah kebutuhan perutnya terpenuhi kan? Tapi, baru saja Jack keluar dari mobilnya dan melangkah, tiba-tiba saja seseorang menabraknya. Cukup keras. Jack tidak jatuh, hanya sedikit goyah namun orang itu jatuh. Pandangan matanya bisa melihat, sosok seorang gadis yang bisa diperkirakan usianya sama seperti Jack. Berambut pirang dan mengenakan pakaian musim semi. Jack menatap langsung mata biru gadis itu, indah.

            “Ah, maaf, Nona..”, jangan heran kenapa pada akhirnya justru Jack yang meminta maaf. Bukankah kebanyakan pria selalu seperti itu?

            “Tidak apa, Mister…”, balas gadis itu sambil berdiri meraih tangan kanan Jack yang terulur.

            “Kau terluka?”

            “Tidak, aku baik-baik saja.”

            Suasana menjadi hening untuk beberapa saat. Saat-saat seperti ini sudah biasa terjadi pada beberapa adegan atau kisah romantis yang ditulis oleh para penulis berimajinasi tinggi. Biasanya sang pria akan meminta alamat atau nomor handphone dari sang gadis, atau sebaliknya. Benarkah?

            “Maaf, aku buru-buru.”

            Gadis itu langsung berjalan cepat meninggalkan Jack yang masih terpaku dengan keadaannya. Dia masih ingin melihat keindahan mata gadis itu. Dia butuh waktu untuk menyimpannya di dalam ingatan kepalanya. Dan baru beberapa langkah gadis itu berjalan, dia menghentikannya. Jack sudah sangat berharap bahwa sesuatu yang menarik akan menimpanya detik ini!

            “Hei Mister. Senang bertemu denganmu.”

            Gadis itu tersenyum manis dan mengedipkan matanya ke arah Jack. Perlu diakui, dia cukup terkesan dengan gadis itu. Tapi bukan senyumnya saja yang membuatnya terkesan. Bagaimana dengan dompet yang ada di tangan gadis itu, dan dengan senyumnya itu, gadis itu menunjukkannya di depan mata Jack. Ya, dompet itu milik Jack! Gadis itu langsung berlari cepat, tanpa menunggu waktu hingga Jack sadar.

            “Hei!! Tunggu!!”

            Jack berlari, mengejarnya. Tahukah dia, bahwa segala jenis pertemuan, entah itu disengaja atau tidak pasti akan memiliki arti tersendiri? Dia akan segera menyadari, bahwa semuanya sudah diatur.

            Termasuk siapa penghuni ‘ruang kosong’ di dalam dirinya.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Welcome to My Blog

Mengenai Saya

Foto saya
FreelanceWriter | RP-er | Manusia Sejarah Undip'14 | Juventini

Pengunjung

Teman

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © Kisah Klasik -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -